Joona Gadis Pencemburu

"Cinta sudah menjelma dalam wujud yang lain. Atau, yang lainnya telah dijuluki sebagai cinta. Dalam cinta, bukankah kita diciptakan untuk saling melengkapi? Iya, sama saat seperti dirimu mulai menggores lagi luka yang belum sempat tertutupi. Dan, lagi-lagi, aku yang mencoba menutupinya sendirian.
Jonna menangis." Gadis menutup kembali buku catatan imaji milik pribadinya.
Dia seperti orang waras yang sedang ditelanjangi takdir. Setelah mengetahui bahwa cinta tidak benar-benar menginginkannya. Segalanya; canda, tawa, yang pernah ada adalah sandiwara. Sadarnya kini kembali setelah sempat diam dan bersembunyi, dikalahkan ego, matilah nurani.
"Bukankah aku cantik?" Ia tidak bicara sendiri, ada bayang-bayang di cermin. Mengikutinya berputar dengan gaun putih lengkap dengan hiasan kepala yang dipakai oleh dewa-dewi dari Yunani.
"Hari ini," ucap bayangannya di cermin, "aku ingin berbagi rasa itu padamu." Seraut bayang wajahnya berubah, jadilah pria yang sempat dikenalnya. "Aku tidak mencintaimu!" Dia tersenyum, sedang Gadis menangis. "Bukankah itu manis?" lanjutnya.
"Cukup!" Gadis melempar sepatu kaca ke cermin di hadapannya. Keduanya pecah seketika. "Ini duniaku! Kau hanya bagian dari cerita yang tak sengaja kutulis Han!" Senyum pria itu baru saja lenyap dari cermin.

Fashion-Blogger ini kelelahan karena emosinya, juga dingin udara dataran tinggi Dieng, dan tertidur. Tiada mimpi yang nyata bagi seorang Lucid Dream, hanya terasa seperti kenyataan untuk Gadis.




"Han, bukankah aku cantik?" kata Jonna.
"Tentu. Kau cantik sekali, Sayang," Han tersenyum tipis.
"Tapi mengapa kau lupa pesanku, 'Jangan keluar hari ini. Akan ada badai salju.' Apa pesanku tidak masuk ke ponselmu, Sayang?"
"Pagi sebelum berangkat ke kantor, aku sudah membacanya, Sayang."
"Tapi kenapa kau pergi?" Jonna menangis dalam dekapan Han. "Tak inginkah menikah denganku?" ada isak dalam suara itu.
"Aku sudah meminta doa dari orang tuamu. Aku pasti akan menikahimu."
"Badai itu telah merenggut nyawamu. Kau sengaja ke luar agar punya alasan kuat untuk tidak menikahiku, kan?" Jonna jatuh dari pelukan Han, terlihat setengah sadar.
"Bukan, Sayang, bukan. Aku dipaksa oleh wanita itu!" Han menunjuk Gadis. "Kita tidak dalam cerita fiksi. Tapi itu adalah ceritanya!" Matanya melotot, mendekati Gadis yang kini tidak dapat bergerak.
"Tega sekali dia. Menyakiti hati seorang wanita yang sama sepertimu!?" Mata Jonna menangkap Gadis. "Bunuh dia, Sayang." Han tersenyum lagi mendenger perintah kekasihnya.
Masih di sana. Gadis tak mampu berbuat banyak. Tidur yang diharapkan banyak orang dapat menghilangkan tekanan, kini berubah mencengkram. Seperti bayi belum mengenal bahasa, Gadis tidak bicara. Hanya sorot matanya seakan berkata, 'jangan'.
Han lari seperti atlet. Menggenggam erat pulpen biru kesayangan Gadis. "Dengan ini aku dimatikan. Kau juga harus." Han berkata dengan sopan, lalu melanjutkan, "Nyawa dibalas dengan nyawa, Cantik."
Guncangan kuat dirasakan. Lalu, sayup-sayup didengar, "Gadis. Bangun ...." Suara itu terdengar jauh, tapi dekat.
Diatur napasnya, mata indah itu kini terbuka.
"Kenapa berantakan sekali kamarmu, Dis? Kenapa tidur dengan gaun basah seperti ini, Dis?" Ada banyak hal yang harus Gadis jawab dan jelaskan. Juga naskah fantasi pembunuhan miliknya.----bersambung----

You may like these posts

3 Comments

  1. Yulka Mayatskaya
    wah agan benar benar hebat dalam menulis cerpen, saya suka bacanya
  2. Ryan M.
    Wow wow...
  3. kata-katanya sangat teratur, sudah kayak penulis jempolan saja...
    sudah pernah menulis buku nih kayaknya ya? heh