Juita Malam
Itu hanya lisan manusia, Sayang, yang senantiasa cuci-tangan dengan mengatakan, "Manusia tak luput dari dosa." Begitu naif, ya, karena harusnya dosa mampu diminimalisir dengan menghindarinya, bukan pasrah hingga terkesan dipupuk-subur. Mungkin semua sudah puas memberiku predikat 'Si Pesakitan', jadi biarlah kini aku tampil sebagai 'Seorang Munafik'.
Satu-satunya kejujuran yang kuhapal hanyalah 'wanita adalah perhiasan dunia terindah' dan itu tidak berlebihan--setidaknya menurutku. Bukan perjalanan yang mudah, jujur, aku sempat meratap atas kepergian seorang wanita dalam bagian hidupku. Tapi, bukankah itu yang sering digadang-gadangkan sebagai proses pendewasaan diri, Sayang?
"Masuki hatiku jika engkau ingin mencari!"
Biarkan mereka berdansa di atas segalanya; dosa, dusta dan cinta. Setelah berhasil mencipta paradoks dari kesalahan atas diriku yang mengagumi wanita.
Oh, Juita. Usah lagi ... Biar kini menjelma ribuan cahaya, atau bunga kembali menguncup. Yang para dewa dibuat haus karena nektarnya. Hingga kumbang-kumbang berlarian-menepi. Dan, dijatuhkan kutukan atas mereka; dewa, di taman bunga. Jadilah Psycie seorang dewi yang terpangil ke surga.
Dan, jika ...
Lelaki dihadapkan dengan harta, takhta juga wanita.
Maka, jawaban terbaik yang kupunya, adalah
wanita adalah harta;
takhta di hati seorang wanita;
wanita yang benar dicinta, Sayang.
