Juita

"Usah lagi kau tangisi, Jui."
Kenyataannya adalah seorang perempuan bisa saja menangis hanya karena ingatan-ingatan kecil dari hari lalunya. Seperti halnya, Juita, gadis dengan paras tak seberapa yang menarik banyak perhatian Kaum Adam. Dan, yang paling menyedihkan adalah Tejo, lelaki yang enggak punya apa-apa--"Kecuali cinta," katanya--mendapati dirinya sendiri sedang mengagumi Jui.

"Mau ngasih makan apa, Dab? Cinta?" jelas Didit yang jelas-jelas jealous.
"Ya enggak gitu juga, Dab."
"Ya emang gitu, Dab. Kalau enggak makan cinta, terus makan apa? Batu?"
"Asem! Kalau ayah-ibumu enggak cinta, kamu sudah ditukar nasi bungkus dari dulu, Dab."
"Asem! Bener juga, Dab."
Akhirnya, Tejo meyakini bahwa dirinya hanya memiliki cinta. Karena, harga yang berlaku di setiap wilayar adalah kerendahan hati. Rasa kemanusiaan yang memanusiakan manusia juga hanya terlihat ketika memiliki cinta. Bahkan hidup tanpa cinta, bagai sayur tanpa garam. "Yo hambar, Dab," Didit menimpali.
"Sudah-sudah, jangan nangis terus, Jui. Nanti tambah jelek loh ..." Tejo berusaha membujuk Juita.
"Jadi ... aku beneran jelek ya? Pantes aja aku diputusin."
"Cuman orang buta yang bilang kamu jelek, Jui."
"Tadi Tejo bilang gitu. Jadi tejo ...?"
Beginilah Tejo. Lelaki sederhana yang nyaris 'nggak pernah rapih. Menurutnya, hidup bukan tentang rambut kusutnya, cara berpakaian yang berantakan, atau bahkan cara berbicara yang enggak pernah makan bangku sekolahan itu. Jadi ... bagaimana menghargai gadis pujaan hatinya.
Tejo diam, memandang bidadari di hadapannya sejenak, lalu berkata, "Kalau putus ya sudah, 'gak usah pacaran lagi."
"Tapi Jui enggak pernah jomblo loh, Tejo," Juita terus membela diri.
"Oh, gitu. Jadi, tiap pacar baru itu hanya alasan untuk mengalihkan perhatian dari mantan? Kasihan banget tuh, enggak ada cinta."
"Tejo, mah ..."
Perih masih tertahan, perih yang sulit terobati. Meski deti-menit, bulan bahkan tahun berganti.
Kini mereka ... Tidak akan pernah bahagia selama-lamanya, happy-ending full barokah, karena hidup bukanlah seperti negeri dongeng, atau yang tertulis dalam kisah roman-picisan. Satu yang sama-sama dirindukan, 'berbagi cerita tuk menghapus semua derita', meski derita tidak akan terhapus dengan mantra abra-cadabra. "Sebab, bahagia bukanlah kuasaku. Tapi, jika kau cari sebuah kebahagiaan, aku bisa menjadi perantara," pungkas Tejo.

You may like these posts