Jujur, Ini Pertama-Rahasia
Pandangannya jatuh ke arahku; maksudku, tepat menyorot jauh ke dalam mata. Aku tahu itu. Juga saat sesekali ia menelan ludah, tangannya yang menghapus keringat di dahi, dan, lidahnya yang membasahi bibir mungil itu. Rambutnya masih dibiarkan terurai-berantakan saat aku mendekat. Hela nafasnya, sungguh terdengar hangat di gendang telinga.
Katanya, memandang lawan jenis dengan segala keindahannya lebih dari lima detik adalah sebuah kesalahan. Tapi, relatifitas waktu tidak berlaku.
Menjadi orang yang paling bersyukur atau bodoh, entahlah. Setelah menyia-nyiakan keindahan adalah perbuatan setan. Setelah Adam terusir tuhan. Maka anak-cucu Adam biasa sepertiku tidak punya akal yang sehat untuk membedakan rasa syukur atau sebuah kebodohan.
Biarlah aku yang menjadi orang gila kali ini, pikirku seketika. Aku lebih mendekat. Ruang kosong yang menyekat tidak lebih dari sekepal tangan orang dewasa.
"Athena!" seru pria dibelakangnya.
Lantas perempuan itu menengok. Memalingkan wajah manisnya dariku. Tak ingin kehilangan, aku memutar orak lebih cepat. Ingin kurampas tangannya yang kuyakini halus itu. Menggenggamnya, hingga aku berani bersumpah, dia takkan mungkin bisa berpaling lagi dariku.
Dan ....
Athena bersama pangeran berkuda putih itu hidup bersama bahagia selama-lamanya. Setidaknya itu yang tertulis di layar monitor saat filmnya habis.
*)Tamat.
