Jazima
Dua tahun terakhir dalam perjalanan hidupku bisa dibilang adalah masa-masa terberat. Tapi bukan lagi tentang diputus cinta. Bukan soal ditinggal nikah mantan. Bukan berapa lama menyandang predikat jomblo sepanjang abad. Bukan, bukan itu, sungguh. Tapi karena ...
"Keknya gue punya masalah baru hari ini, Yan," ujarku pada Iyan. Dia adalah, bisa dibilang raja gombal. Rayuannya cerdas, tapi cintanya--yakinlah tidak ada yang berharap tahu--selalu berakhir kandas.
"Masalah apa?" selidiknya ingin tahu. "Apa ada yang berani ganggu orang dengan tampang seserem lo?"
"Asem, bukan itu," jelasku tak ingin berdebat. "Tapi keknya gue lagi jatuh hati."
"Gue laki!"
"Gue juga tahu itu. Kalau homo juga pasti gue pilih-pilih! Tapi serius, ini tentang bidadari, Yan."
"Sudahlah, gue tahu. Ujung-ujungnya lo bakal patah hati. Nasib baik lo diterima, abis itu ... ya jomblo lagi."
"Terus gue harus gimana kalau gak mau putus?"
"Ya lo tahan aja perasaan itu sampai mati."
"Parah lo," ucapku sangat kecewa.
"Gue pernah baca, tapi lupa punya siapa, gini 'Kalau suka sama dia. Deketin aja Dia'. Gitu."
Sudah mendengarkan dengan sangat antusias, ternyata bablas. Otakku tidak mampu mencerna kata tersebut. "Maksudnya?" bersuarakan penasaran.
"Ya lo deketin aja pemilik hatinya, Allah."
"Boleh tah?"
"Ya boleh. Ada firman Allah dalam Qur'an, 'Mintalah kepadaKu, maka akan Aku kabulkan'."
Aku sempat sesaat bertemu Jazima. Memandangnya datar, tampa rasa. Selanjutnya, ada getaran. Kala mentari dengan malu-malu mengintip dari timur. Saat relativitas memang tidak berlaku. Digambar-Nya senyum sehangat sahabat lama itu pada wajah Jazima. Namun tak bertahan lama.
Jazima
;yang senantiasa menyembunyikan wajahnya
;yang dengan malu menjaga pandang agar tetap teduh
;yang tak pernah kuukur terpaut seberapa jauh dirimu.
