Taman Bunga! Katanya
Atas nama cinta, engkau rela menghimpun perih. Dan ternyata kau mahir memalsukan setiap luka ... atau memang sudah tiada beda antara bahagia dengan air mata? Jawab, Bodoh! Jangan paksa lebih jauh lagi bohongi nurani. Ataukah memang sudah mati? Pantas saja!
Apa api asmara yang besar membara telah membuatmu buta? Apa kata mesra yang senantiasa diperdengarkan padamu malah membuatmu mati rasa? Yap, sepeti orang menyepi, menikmati candu di sudut ruangan. Tubuhnya meronta, dibatas ajal. Sukma menjejal, mulai menyesal. Ingin ulangi; perbaiki. "Bukan kuasaku," pungkas Izrail merdu.
Andai taman bunga di ujung sana
yang karena semerbak harumnya
berbaris kumbang terbang dekati
lalu jadilah mereka pendiam
tidak bersungut, hanya tunggu giliran
dengan sabar
pun lalu ikhlas.
Adakah pantas?
;merela atas setiap jatuh kelopakmu?
yang karena tiada santun kumbang menghisap nektar; madu
tiada malu-malu ... sudahlah.
"Sebab mekarmu hanya sekali," lirih Haikal Hira sembari tangannya sibuk mengusir kumbang.
Akhirnya enggkau menggantikan seorang yang menangis di sudut sana. Dengan terisak, tubuhmu meronta, menggantikannya.
