Biduk

Kita takkan pernah sama, tak akan pernah! Itu adalah kalimat penawar yang paling indah di hidupku, bahkan hidupmu, kujamin itu ... hingga rindu ini takkan pernah terisi.

Hidup bukan untuk melawan hati tapi berdamai dengan kenyataan nyatanya terlalu sulit. Sudah terlalu banyak kualami, mengabaikan juga diabaikan. Terlampau sering kuingkari pun diingkari. Hingga bimbang merengkuhku lampaui dekap hangatnya terik musim kemarau. Biduk ini ke mana akan kubawa? Sungguh kutak tahu. Dermaga nampak ramai namun tak berpenghuni; terlalu gersang meski banyak bunga menguncup-tumbuh bersemi.

Lalu, sempurnakah dermaga merindu bidukku? Apa bidukku takkan sempurna di pelupuk dermaga? Ataukah benar kita takkan pernah sama, dermaga, di mata Tuhan?
Kuputuskan untuk menyelam. Sembari minum air di sela waktu. Nyatanya kuhampir mati.
Kukayuh lengan dayung. Berharap dua bahkan tiga pulau terlewati. Tapi hanya kudapati sesal yang hingga kini tiada henti.


Berharap biduk mampu menepi. Asallah jangan lagi kau suruhku pergi!

Aku terbiasa berteman malam. Bahkan siang dan mentari terasa seperti malam yang beku. Sementara pasir di pantaimu sepakat untuk menolakku sejauh mungkin. 

Duhai dermaga!
Pelepas dahaga untuk menepi.
Meski aku bukanlah malam-malam berbintang
Pun siang yang terang
Janganlah anggap aku seperti barbar berlari menggenggam benderang
Ini bukanlah perang!
Cukup ..., untuk bidukku.

You may like these posts

4 Comments

  1. Unknown
    Terbaik
  2. Unknown
    ane masih bingung, biduk tuh artinya apaan sih gan
  3. Ciyee yang ketauan lagi mendamba pasangan hidup ^o^
  4. Dedy Widianto
    wah... keren bro. puisinya.. sejuk banget. :)