Di Batas Waktu
“Kenapa kamu berhenti?” seorang sahabat bertanya dengan raut muka yang entah apa artinya. Saat kami sedang menikmati cappucino panas sambil duduk dikursi taman melihat rombongan anak-anak bermain dengan sepatu rodanya.
Aku menatap langit, cerah sekali langit hari ini.
“Aku hanya bosan,” jawabku.
Seketika itu juga mata teman beralih kearahku. Tidak puas dengan jawaban yang kuberi, mungkin. Raut wajahnya menuntut penjelasan, kemudian bertanya lagi, “apa yang membuatmu berhenti?”
Aku menghela nafas. “Bukankah kita sudah terlalu banyak merugi waktu? Aku hanya merasa-atau memang kenyataannya- sudah banyak melupakan Tuhan-ku. Bahkan belum pasti dalam sehari aku mengingat-Nya lima kali dalam shalat. Al-qur’an seperti ditiadakan, padahal Al-qur’an jelas petunjuk yang lurus. Kecintaanku terhadap ciptaan-Nya bahkan jauh melebihi kecintaanku terhadap-Nya. Tidakkah kamu merasa begitu? Shalat lima waktu belum tentu menjadikanku mencintai-Nya secara utuh diatas yang lain. Karena kita sudah terlalu banyak membuang waktu untuk hal yang tidak berguna dan tontonan yang tidak bermanfaat pula. Aku tak ingin merugi lagi. Tidak!
Tetapi sahabatku, hari ini aku merasa senang, mereka tak lagi menarik dan -entahlah- aku seperti menyesal telah menyanjungnya dulu. Yang tentu kau tahu, penyesalan tak pernah hadir di awal waktu,” jawabku.
Sekarang berganti ia yang menghela nafas. Bahkan lebih berat. Menatapku lamat-lamat. “Kamu bersungguh-sungguh?” tanyanya menuntut kejelasan.
“Tentu saja. Apa lagi yang kau ragukan?” jawabku.
“Baiklah. Aku menghargaimu keputusanmu itu. Tapi maaf, aku jelas tak mampu melakukannya.”
Ia pun bangkit dari bangku taman yang kami duduki. Meninggalkan gelas cappucino yang masih belum tandas. Punggungnya kian jauh, hingga menghilang dibalik pepohonan.
“Bukankah yang tak mampu kau tinggalkan itu fana?”
“Kalau begitu aku mencintai Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakar, dan ‘Umar. Aku berharap bisa bersama mereka karena kecintaanku pada mereka, walau aku tidak bisa beramal seperti amalan mereka” [HR. Bukhari no.3688]
***
Penulis tamu di Metro Fiksi ini bernama lengkap Bunga Maylisa, dan akrab dengan nama panggilan Bunga. Bunga menekuni dunia tulisan disela-sela kesibukannya sebagai pelajar di salah satu sekolah menengah tingkat akhir di Kota Metro. Kegemarannya di dunia tulis, sudah ditekuninya sejak sekolah dasar. Namun baru sekarang ia mempublikasikan tulisannya.
Untuk menghubungi Bunga dapat melalui surel dengan alamat: bunga.maylisa29@gmail.com.

