Noda di Baju Dokter
“Pras,
kudengar, ibumu,” ucap seorang sahabatnya, ingin sekali mencari tahu info yang
sedang digosipi anak-anak hari ini. Maksud hati ingin membela Pras.
“Masuk
bui, malpraktek. Nggak bener kali, waktu masih sekolah! Hahaha!” sahut beberapa
anak saat melewati tubuh Pras dan sahabatnya itu. Pras hanya memandangi mereka.
Sahabatnya hanya memegang pundaknya, dan tersenyum tipis.
“Emang,
dokter nggak ada yang bener. Udah digaji gede, kerjanya pilih kasih. Apalagi kalo
pasiennya pake jamkesmas. Jangan harap, mereka nyaman di rumah sakit. Mereka,
ibarat pembunuh berdarah dingin, membunuh secara perlahan.” ucap murid
perempuan, yang tak terima ibunya pernah meninggal di rumah sakit, saat tubercolosisnya
kian parah.
“Jaga
bicaramu, Ras!”
“Memang
dokter seperti itu!”
“Tidak
semua dokter seperti itu!”
sanggah Pras.
“Ya,
tidak semua seperti itu, ada yang lebih parah, ibumu!”
“Ibuku
tak bersalah, Ras! Ia melakukannya sesuai standar profesionalitasnya. Kau tak
pernah tahu
apa yang sesungguhnya terjadi. Hanya membaca, yang nampak pada matamu saja!”
“Kalau
tak bersalah, kenapa ibumu masuk bui?”
“Ras,
kalau kau kecewa karena kematian ibumu, jangan bawa-bawa ibuku, Ras!”
“Hey!”
ucap seorang lelaki yang bergerombol tadi, tiba-tiba ada di belakang Laras.
Bermaksud membela Laras.
“Apa?!”
suara Pras meninggi.
“Sabar,
Pras.” bisik sahabatnya. Seorang gerombolan pria itu hanya tesenyum kecut.
Wajahnya membuat Pras ingin meremuknya.
“Hey,
Ras. Sudahlah, tak guna kau biacara seperti itu padanya! Dia pasti akan bela
mati-matian ibunya.” ucap seorang gerombolan laki-laki itu. Jantung Pras sudah
memanas, dan berada di puncak termerah. Maka ketika segerombolan lelaki itu
membalikkan badan, Pras menarik tasnya dan langsung meninjunya. Laki-laki itu
jatuh, dan Pras langsung menghajarnya. Melihat pemandangan itu, demi sebuah
kata persahabatan, tak rela seorang temannya dilukai orang lain. Maka mereka
pun menghajar Pras. Sahabat Pras yang sedari tadi melerai, tak kuasa menahan
gejolak jiwanya sebagai lelaki, yang juga bisa berkelahi. Akhirnya mereka
saling beradu jotos. Anak-anak jadi gaduh, satpam pun datang, guru-guru, murid berdatangan.
Di
sebuah ruang sunyi dan gelap, lelaki itu seperti hilang akal. Ia hanya seperti
melihat sosok anak kecil berbaju putih di hadapannya. Anak itu tampak mengiris
jantungnya. Ia seperti mendengar jelas, anak kecil itu menyebut-nyebut dirinya.
Wajahnya mengukir senyum yang membuat dadanya berdegub.
“Papa!”
suara itu tampak jelas di daun telinganya. Namun, yang ada hanyalah kosong,
ruang tak bernyawa selain dirinya di tempat gelap itu. Tiba-tiba bunyi reyot
pintu terdengar, dan seorang kakek tua dengan baju berwarna kopi berdiri di
ambang pintu. Ia membawakan nasi tiwul yang masih mengepul asap di atasnya.
“Makan
dulu, Nak.” ucap seorang kakek tua berbaju kopi. Lelaki itu menggeser tubuhnya,
saat didekati kakek tua. Desahan napasnya kian terdengar. Kakek tua
mengusap-ngusap kepalanya yang tertelungkup di antara
ke dua kakinya. Kakek itu mengulum senyum.
“A’udzubillaahiminasy syathoonirojiim.”
ucap kakek pelan seraya mengusap kepala hitamnya.
“Nak,
minumlah!” ucap kakek menyodorkan segelas air bening.
“Tak
ada yang membuatmu takut di sini.” ucap kakek itu. Lelaki itu hanya menangis,
air matanya mengejawantah, seolah berteriak aku sedang pesakitan! Kakek itu menyodorkan minumnya,
beberapa kali mencobanya, dan akhirnya berhasil. Ia menelan air dengan tergesa
hingga terdengar bunyi tegukannya. Kakek tua hanya tersenyum.
“Apa
yang membuatmu seperti ini, Nak?” ucap kakek Tua. Lelaki itu mendengar ucapan
kakek, ia tampak lebih tenang. Ia memandang kakek, dan kakek selalu memberikan
senyum bulan sabit yang terbit di ujung bibir keriputnya.
Di
tempat lain, ruang ber-AC itu tak
ubahnya oven klasika
yang sedang memanggang para kepiting-kepiting berambut hitam, hingga warnanya
merah menyala. Dalam ruangan itu terdapat dua kelompok manusia yang saling
ingin memenangkan pertarungan kasus ini. Dengan terdakwa di depan meja hijau
sang hakim. Namun, usaha tampak tak berguna, ketika palu itu dijatuhkan hakim
ke papan. Ketukannya, seperti menarik-narik jantung sesiapa yang tertuduh, di
depan meja hijau itu. Dunianya seakan berubah gulita dan halilintar saling
menyambar. Hanya air mata yang mampu bahasakan, betapa remuk hatinya menjelma,
semua nyaris tak memihaknya. Hanya beberapa manusia, yang tak dapat menolak
palu itu terdengar bunyinya. Kali ini, ibu Pras resmi masuk bui.
“Ibu
tak bersalah!”
seru Pras. Para tamu yang hadir di balik badan ibu Pras, tak kuasa menahan air
mata. Baju putih mereka terkena tetesan air yang tak bisa lagi ditahan.
“Dokter
brengsek. Kalian brengsek semua! Makanlah kebrengsekan kalian itu!” serapah
orang-orang yang mengaku menang dipengadilan. Pras menahan gejolak jiwanya,
sebagai seorang laki-laki. Ia hanya bisa berkaca-kaca, dan napasnya memburu. Sahabatnya
selalu ada di sampingnya. Ia melihat wajah Pras memerah, dan ototnya mengular
di pinggiran rambutnya.
Lalu
dua ajudan membawa ibunya, kemungkinan besar, membawanya ke sel. Pras langsung
berdiri dan menghalau mereka.
“Ibu!!!!”
teriak Pras.
“Kenapa
Ibu ditangkap, Bu?! Apa salah Ibu?” ujar Pras kepada dua ajudan itu. Namun, dua
ajudan itu tak menghiraukan rengekan Pras. Ia tetap membawa ibunya.
***
“Kakek,
kakek percaya, siapa yang menanam ia yang akan menuai hasilnya?” ucap lelaki itu
akhirnya. Isakkannya sudah tak terdengar lagi. Kini, ia tiga kali lebih tenang
dari sebelumnya.
“Ya,
aku percaya.”
“Bagaimana,
jika ada pencuri? Bagaimana si penanam bisa menuai hasilnya?”
“Itu
musibah namanya.”
“Tahukah Kek, pekerjaan dokter adalah
menolong pasien?”
“Ya.”
“Tapi,
bukan berarti, dokter bisa menambah panjang usia si pasien. Karena di atas
segalanya, takdir selalu berdiri di atas kuasa manusia.”
“Apa
kakek percaya, masih banyak dokter di dunia ini, yang memiliki hati?”
“Aku
percaya. Apa kau tahu, beberapa dari mereka, mengabdi di desa pedalaman, di
hutan, dengan peralatan seadanya, bahkan dengan biaya sendiri. Gaji yang tidak
sesuai. Hari ini, di desa ini masih ada dokter seperti itu.”
“Siapa?”
ada tanda tanya, di kening lelaki itu. Kakek menyimpul senyum. Senyumnya yang
seperti wedang jahe, menghangatkan
jiwa bagi yang melihat senyumnya.
“Dirimu.”
ucap kakek.
“Aku?”
“Ya.”
tandas kakek.
“Bukannya
aku ini bajingan, Kek?” lelaki berjas putih tertawa kecil.
“Kenapa
berkata seperti itu?” tanya kakek.
“Karena
aku tak becus menangani pasien.” ucap lelaki berjas putih.
“Kau
sudah berusaha. Kita tak pernah tahu masa depan itu seperti apa. Begitu
menyenangkan atau mengerikan. Siapa yang pernah tahu, akan terjadi sesuatu oleh
kita.”
“Tapi
aku melarikan diri.” kata lelaki itu.
“Kenapa
kau melarikan diri?” tanya kakek.
“Aku.
Aku tak bermaksud melarikan diri. Hanya, aku sangat kebingungan mengurai ujian
ini. Aku tak pernah menyangka ini akan terjadi padaku.”
“Pasti
keluargamu mencemaskanmu.” ucap kakek seraya mengusap-usap bahunya.
“Aku
mencintai mereka, Kek.” ujar lelaki itu tersenyum tipis.
“Tenanglah,
saat ini para sejawat tengah membela. Mereka, para dokter di seantero negeri,
memakai pita hitam, bukti mereka turut berduka atas apa yang sedang menimpamu,
dan kedua teman sejawatmu. Mereka sedang melakukan aksi turun ke jalan.”
“Tapi,
apakah dengan itu, kami bisa bebas, dan hidup seperti sedia kala?” lelaki itu
menatap kakek tua, penuh harap.
“Anakku, jika datang
masa sulit, yakinlah, ada saat-saat dimana kita pun dapat tersenyum kembali.
Tetaplah bersama Tuhanmu, dan kau akan tenang. Dan lihatlah, mentari yang
benderang itu! Tak-kan indah jika, ia terus menerus bersinar.” ucap kakek
seraya mengamati sinar teja dari balik kaca jendela. Pandangan lelaki itu pun
melihat ke arah yang sama. Saat itu teja tengah bersinar dengan gagahnya.
Terinpirasi dan mendapat ide, sumber berita : https://m.tempo.co/read/news/2013/11/27/173532785/malpraktek-atau-tidak-dr-ayu-lihat-empat-poin-ini (Mungkin beritanya menuai pro dan kontra).Cerita ini hanya fiktif belaka.
Penulis tamu di Metro Fiksi ini bernama lengkap Betty Permanasani. Ia merupakan penulis buku Kaulah Jodohku! Serta beberapa cerpennya telah terbit diberbagai macam antologi.
Di samping kesibukannya sebagai seorang mahasiswi pada salah satu perguruan tinggi Islam di Kota Metro, pemilik nama pena Sedamai Lazuardi ini juga aktif diberbagai forum kepenulisan. Salah satunya adalah Forum Lingkar Pena. Dan saat ini memegang amanah sebagai Ketua Umum FLP Cabang Metro (2016). Untuk menghubunginya, dapat melalui Betty Permana

