Takbir, Hari Kemenangan dan Potret Gap Sosial
Gema takbir sudah beradu dengan deru gerimis di sore tadi. Takbir sengaja dikumandangkan di penghujung Bulan Ramadhan dalam rangka menyambut hari kemenangan, yang fitri. Sebab semua menang di hari kemenangan, kecuali--saya--yang menjalani serta melewatkan Ramadhan dengan kesia-siaan.
Gerimis tak bertahan lama. Sebab, seiring senja berteduh dan malam makin tunjukan gelapnya, berakhir juga rerintik hujan itu. Tapi gema takbir tak merajai malam sendirian. Kini berganti teman dengan kenalpot yang menyalak-nyalak dari kuda besi yang penunggangnya asik mencari jati diri. Turut pula letup bunga api, lengkap dengan asapnya hasil pembakaran mesiu.
Polisi yang berjaga di sekitaran Taman Merdeka pasti telinganya tidak alpa dengan keakraban malam takbiran itu. Namun matanya tidak awas, karena lebih memilih memandang lekat-lekat gadget--pantas saja dari dulu saya bekerja sebagai buruh panggul, mandor selalu melarang untuk memegang ponsel saat jam kerja, pasti ia ingin setiap pekerjaan berorientasikan pada kualitas--daripada memerhatikan seorang bapak tua yang menjaga laju sepedanya di rambu-rambu penyebrangan.
Bapak yang tua itu bukan tanpa alasan menyeberang. Bahkan ia tahu betul resikonya jika badan atau sepedanya tersembar laju sepeda motor kanak-kanak yang dalam masa pencarian jati diri itu. Ia hanya mencari berkah dari usahanya mengais gelas dan botol plastik. Pasti, ia juga berharap besar dengan penuh syukur mendapati hari kemenangan.
Atau jangan-jangan ia lebih memaknai Bulan Ramadhan dan Hari Kemenangan. Ketimbang saya yang beralas-alasan dengan malas, meng-kambing hitam-kan prosesi puasa dan leha-leha di hari kemenangan yang sama sekali justru tak berhak.
Dari sekian banyak khilaf, kalau boleh saya berpendapat: boleh jadi, Bulan Ramadhan harus bermakna awas serta mawas dalam pencarian jati diri. Agar kita--terlebih saya, tidak semena-mena berhak atas hari kemenangan.
