Tips Mengemas Pesan Dalam Sebuah Cerita

Kali ini, tips mengemas pesan dalam sebuah cerita akan saya berikan. Tulisan ini terinspirasi dari sebuah novel Dunia Sophie karya Jostein Gaarder dan A Song of Ice and Fire #1 karya George Martin.

Banyak yang bilang kalau gaya dan jenis tulisan karya seseorang dipengaruhi oleh kehidupannya. Tulisan tidak harus serius. Tidak harus menggelitik. Akan tetapi harus berhasil menyampaikan pesan dari ide cerita yang dibangun.

Poin pentingnya adalah, sebuah tulisan tidak akan berhasil menyampaikan pesan yang dibawanya kecuali ditulis dengan melewati proses yang serius. Sekalipun dirangkum dalam kemasan menggelitik.

Misalkan saja pesan yang disampaikan Jostein Gaarder tentang keanehan pacaran dalam novelnya Dunia Sophie. Diceritakan bahwa tokoh Sophie Amundsend yang sedang mendapat pelajaran filsafat dari seorang yang misterius dicurigai oleh Ibunya sendiri. Bahkan dituding keanehan sikap Sophie adalah karena ia sedang menjalin hubungan dengan lawan jenis, padahal masih berusia empat belas tahun.

Masih ada contoh lagi mengenai pesan tulisan serius yang dikemas menggelitik. Karya George Martin, A Song of Ice and Fire tak kalah menggelitik dari penggalan pesan dalam Dunia Sophie. Dalam karyanya, Goerge berpesan bahwa kecintaan yang teramat karena paras akan membinasahkan.
Melalui tokoh Shansa, George menampilkan karakter perempuan yang penurut berubah jadi keras kepala karena mengenal ketampanan lawan jenisnya, Pangeran Jof.

Benar kan, kalau cerita menggelitik juga dapat menyampaikan pesan yang dalam? Tetap menulis, apapun genre tulisanmu :)

You may like these posts