Bom Bunuh Diri
Alamak, aku dikira pengantin bom bunuh diri. Aku sudah coba jelaskan, tapi sikap paranoid mereka membuat buta mata. Apalagi belakangan ini lagi nge-trend islamopobia. Entahlah
Sebaiknya kau datang saja, sayang. Ceritakan bahwa aku mencintaimu setengah mati. Katakan juga kalau kau tak percaya akan cintaku. Jadi, kusuruh kau untuk masuki hatiku jika hendak mencari.
"Mencari apa?" katamu suatu hari.
"Mencari makna dirimu di hatiku."
Saat itu kau ingin masuk. Kenyataannya memang tak cukup untuk kau masuki. Aku berpikir keras setelahnya. Berjam-jam kuhabiskan menghubungi tukang sulap dan berakhir nihil. Ia tidak dapat membuat jalan pintas, kecuali untuk jadi kaya.
Hari berikutnya aku digampar perawat. Ia mengatakan aku gila. "Lelaki tidak akan hamil, bodoh!" ujarnya kala itu.
Padahal aku minta di-USG untuk mendapat rekapan denah lokasi dirimu di hatiku. Tapi ia keburu salah tanggap.
Akhir aku mendapat predikat pembuat teror adalah karena menemui seorang dokter bedah. Ia membedah hatiku. Aku bermaksud membawanya ke hadapanmu untuk sama-sama kita pelajari skema cinta. Namun bertemu kau pun belum, aku malah dikira membawa bom panci.
Terpikir betapa konyolnya aku, sayang?
Mereka curiga akan benda yang kubawa. Dan kau tau berapa kuatnya getaran hati yang sedang jatuh cinta? Jangan kau bayangkan, yang pasti dunia ini geger dibuatnya. Jangan pula kau tanyakan bagaimana seseorang bisa hidup tanpa hati. Sebab orang yang jatuh cinta kadang-kadang, bahkan teramat sering, tak ada logika.
Datang saja, sayang, kumohon cepat. Dunia mendadak gila akhir-akhir ini
