Kanak-Kanak
Ingin rasanya mencintaimu dengan begitu sederhana. Sesederhana kentut di tengah keramaian. Terjadi saling tuding. Baku hantam. Hingga pada akhirnya kau sebut juga, bahwa aku lah.
Lalu kita berdua. Yang ketiga tetap setan. "Kecuali anak-anak," katamu. Baiklah.
Saat tiba waktu dimana kita namai pagi, ketika kau sibuk di dapur menanak nasi, sedang aku mengiris bawang, kol, wortel serta seledri. Anak kita yang kanak-kanak menjadi koki.
Hendak bersantap. Hendak kulahap. "Berdoalah dulu," rengek anak kita.
Kau tertawa. Mengusap rambutnya yang sebahu. Sembari menutup cerita. Di buku, yang kusimpan ini dalam khayalku.
