Setapak Jalan





Setapak jalan, makam dan malam sunyi. Tidak ada jaket kulit. Melainkan kulitnya yang ari ialah teman menjelajah masa. Pula perihal kantuknya yang tiada mampu tipukan dingin.

Tanah makam malam ini masih basah. Seharian rintik gerimis datang milyaran garis. Membuat mimpi Ibrahim bertambah satu: tak lagi tidur beratapkan lagit, beralas bongkahan batu.

Sembari menghitung rupiah demi rupiah upah jadi kuli itulah ia hitung juga mimpi demi mimpi yang ingin dibeli. Namun tetap hanya akan terlunasi sewaktu Ibrahim tidur. Toh nyatanya ia bukan pemimpin, hanya pemimpi! Nyatanya di dunia ini hanya pemimpin yang bisa mewujudkan mimpi dalam hidup! Sementara pemimpi ambil bagian hanya pada kehidupan bermasyarakat yang tak ada gairah.

Begitulah kehidupan Ibrahim. Semenjak dibuang keluarga, dibuang juga ia dari lingkungan tempat tinggalnya. Mengharuskan menetap di sisi ruas jalan setapak makam saat bermalam dalam gigil, detik waktu, kesenjangan sosial dan ketidakpedulian yang tambal sulam.
***

Pagi itu aku bergegas ke pemakaman. Profesi penggalih tanah kuburan mengharuskanku siaga setiap waktu. Ada yang meninggal. Kabar yang kudapat, liang kubur itu diperuntukan bagi pejabat setempat. Biaya jasanya pun sudah dilunasi. Jadi giatlah aku bekerja.

Sampai suatu ketika kulihat seorang kuli pemecah batu tergeletak dengan jatung tak detak. Sontak kuputar otak. Bimbang juga memperuntukan liang pada mayit siapa. Alangkah kagetnya mendapati uang di sakunya. Cukup untuk kain kafan juga tanah makam satu kali dua. Juga pahatan, yang kukira harapan, di atas batu tepat dimana ia kudapatkan. Bunyinya: semoga dicukupkan bukan malah meninggalkan beban.

You may like these posts