Sinting


Kukira ia patung. Tapi ketika gelas berisi kopinya yang telah tandas dan mengakar di atas meja hendak diambil Mbok Dharmi, sontak ia menahannya. Tangannya melesat, "belum, Mbok," katanya, "aku butuh kafein lebih banyak lagi."

Nampaknya ia dirundung resah. Wajahnya yang serupa kulit kayu mati berkata demikian. Ia sesap apapun digelasnya, yang entah kopi atau hanya bersisa ampas. Menyulut kretek, menarik napas dalam, menghembuskan asap pesakitan. Aku tak pernah sudi untuk tau cara hidup orang macam ini. Sekalipun ditulis pada lembar panjang dengan rapih.

Aku dan istri pernah bertukar cerita tentang kekasihnya di masa lalu. Persis seperti manusia di hadapku yang mematung itu. Waktu itu istri menganggap semua adalah biasa. "Wajar, Kak, setiap orang punya cara masing-masing menghadapi pikirannya." Setelah bicara istriku berjalan mendekati jendela. Memandang jauh pada ilalang sebelum memintaku untuk ambilkan hoodienya karena udara cukup dingin.

"Kak," lirihnya. Kupandangi pemilik wajah teduh itu. "Apa yang Kakak lalukan kalau bergelut sepi tanpa durasi?"

Aku tau maksudnya. Tapi, seingatku, kalau tak salah, aku menjawab, "minum kopi, nulis puisi atau merumuskan cintaku padamu, sayang."

Tak lama aku mengernyitkan dahi. Sembari menanti-nanti jawabnya yang mengandung koreksi.

"Seperti Sapardi?"

"Penyair itu?"

"Iya," pungkasnya.

"Yang katanya 'aku dan matahari tidak pernah bertengkar tentang siapa diantara kami
yang telah menciptakan bayang-bayang', kah sayang?"

"Siapa lagi? Tentu dia yang kumaksud."

"Apa Sapardi minum kopi?"

"Entahlah. Tapi ia menulis puisi."

"Tapi yang bertanya 'apakah mungkin merumuskan cintaku padamu' tetap Rendra, sayang."

"Ya, aku tau. Kangen, kan?"

"Tapi aku 'gak kangen kamu. Tiap hari bertemu."

"Memang, sebelum kita tersakiti, kita takkan mengerti bagaimana ingin dicintai, Kak."

"Lalu?" Kucubit pipinya yang mendadak kemerah-merahan. Mungkin malu.

"Aku tak ingin menyakitimu."

"Pun aku."

Tapi benar kata istriku. Jadi tak kuambil peduli di sana ada pria dalam geming. Hanya kuperhatikan tingkahnya yang tak bertingkah. Hanya untuk membangun karakter tokoh di naskahku nanti. Tak lebih. Sebelum menyadari entah rasa penasaran atau apa yang memaksaku menghampiri. Kutanya dengan santun, "sendirian, Bung?"

"Berdua...."

"Dengan?"

"Dengan kesendirian," katanya dibarengi ia membuang asap kretek ke mukaku.

Dunia berputar seketika di mataku. Dia adalah aku. Aku sepuluh tahun lalu.

You may like these posts